Hi sobat Journey and Leisure! Tidak terasa tahun 2020 sudah akan berakhir, waktu berlalu begitu cepat. Banyak harapan yang belum tercapai tapi, banyak keinginan yang belum terpenuhi, banyak bucketlist yang belum kecentang. Tapi semua harus dilalui dengan legowo.

Dimasa pandemi ini memilih tempat wisata harus benar-benar yang sudah menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan benar. Memang menjadi semakin ribet namun semuanya demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Aku berkesempatan hadir dalam program yang diadakan oleh Dinas Pariwisata Bantul. Jelajah Wisata Bantul dalam sehari. Sangat melelahkan namun banyak pengalaman dan pengetahuan serta teman baru yang didapatkan. Langsung saja aku cerita keseruan selama perjalanan ya.

Desa Wisata Krebet

Perjalanan aku dimulai dari Dinas Pariwisata DIY. Disini aku bertemu lagi dengan Andrew dan Mbak Terry sobat yang sudah beberapa bulan ini tidak bertemu karena jarak. Dan juga teman-teman Travel Blogger dan Influencer lainnya. Bersama-sama kita naik Haice menuju ke Sanggar Peni Desa Wisata Krebet. Setelah sampai kita registrasi dan dibagi kaos serta goodiebag. Setelah ganti baju aku duduk paling depan siap untuk mengikuti opening ceremony. Ternyata di meja kami sudah tersedia makanan tradisional khas Desa Krebet yaitu tempe benguk bacem, kacang rebus, dan ketela rebus. Minumannya yang khas yaitu legen. Sambil menikmati snack yang ada opening ceremony dimulai. Opening ceremony dihadiri juga oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Bapak Kwintarto Heru Prabowo, S.Sos.

Sudah sering aku explore ke Jogja tapi tempat wisata ini belum pernah aku kunjungi. Desa Wisata Krebet merupakan desa sentra industri Batik Kayu. Yang pada mulanya di tahun 80’an desa ini terkenal dengan kerajinan kayu. Semakin berkembangnya jaman, masyarakat desa ini membuat keunikan sendiri. Hal ini bertujuan untuk menarik pengunjung supaya datang ke Desa Krebet yaitu dengan membuat Batik Kayu. Batik Kayu adalah membatik di media kayu. Biasanya yang aku tahu kalau batik ya di media kain, ternyata bisa juga diatas kayu. Kita diberi kesempatan untuk melihat proses pembuatan batik kayu ini. Proses yang dilakukan lumayan panjang mulai dari pemotongan kayu sampai siap untuk dibatik. Hasil kerajinan batik ini sudah laku banyak sampai exspor ke Luar Negeri. Ada juga showroom hasil karya batik kayu yang sudah jadi.

Selain Desa Wisata disini juga terdapat wisata alam yang juga perlu dikunjungi seperti Jurang Pulosari dan Sendang Tirto. Ada juga Wisata Budaya dan di Krebet ini ada 11 kesenian yaitu Merti Desa, Jathilan (2), Karawitan (2), Gendring, Solawat, Macapat, Tari-tarian, Ketoprak dan Pembuatan janur. Sangat menarik sekali teman-teman. Buat kalian yang ingin tahu lebih lengkap tentang Desa Krebet bisa kunjungi website www.krebet.com. 

Desa Wisata Kampung Santan

Destinasi selanjutnya yaitu Desa Wisata Kampung Santan. Tepatnya berada di Desa Guwosari, kecamatan Pajangan, kabupaten Bantul, Yogyakarta. Tetap mengikuti protokol kesehatan, sebelum masuk kita semua wajib cuci tangan terlebih dahulu. Kita disini dijelasin tentang sejarah Ingkung. Ternyata kata Ingkung itu dari kata Sebingkang Jinangkung. Yang pada jaman dahulu makna ingkung ialah sebagai sajian dalam acara adat atau upacara keagamaan. Sebelum dimakan pastinya difoto terlebih dahulu ingkungnya. Ternyata Ingkung Pandansari ini berbeda dengan ingkung biasanya, dalam memasak ini menggunakan santan. Jadi rasa ingkung ini menjadi gurih dan nikmat.

Cuaca sangat panas dan kami tetap melanjutkan langkah untuk ke lokasi pembuatan kerajinan dari batok kelapa. Barang yang dibuat seperti mangkok, cangkir, sendok, sumpit, pot dan masih banyak lainnya. Desa ini sejak tahun 2008 memproduksi kerajinan yang berbahan dasar batok kelapa. Sudah banyak karya dan juga bisa custom jika ingin pesan.

Pantai Baru

Sekitar pukul setengah 12 kami sampai di Pantai Baru. Di wisata ini sudah menerapkan protokol kesehatan. Sebelum masuk wajib cuci tangan terlebih dahulu. Secara bergantian kami cuci tangan kemudian lanjut ambil makan yang disajikan dalam besek. Aku satu meja dengan Andrew, Mbak Terry dan Mas Bagus siap untuk menikmati hidangan makan siang.  Setelah makan kami dijelasin tentang asal mula Pantai Baru.

Pada tahun 2010 Pantai ini dibuka, namun sampai tahun 2011 masih sepi tidak ada pengunjung. Tidak disangka pada tahun 2012 ada peristiwa terdamparnya hiu tutul di pantai ini. Seketika pantai ini menjadi ramai akan pengunjung. Pada akhirnya icon dari Pantai ini ialah hiu tutul. Dan oleh masyarakat pantai ini diberi nama Pantai Baru. Hal menarik yang bisa dilakukan di pantai ini ialah kulineran ala Jimbaran Bali, makan ditepi pantai sambal melihat sunset. Ada juga wisata edukasi PLTH (Pembangkit Listrik Tenaga Hybrid). Listrik ini digunakan untuk penerangan di warung – warung di sekitar pantai. Setelah itu bersama-sama kami naik ATV mengelilingi sekitar pantai.

Pantai Goa Cemara

Sekarang kita sampai di Pantai Goa Cemara yang terletak di Patihan, Gadingsari, Sanden, Bantul, Yogyakarta. Kenapa diberi nama Pantai Goa Cemara? Karena pohon cemara yang membentuk lorong secara alami yang hampir menyerupai goa. Sesampai disana kami sudah disambut dan dimeja sudah disiapkan snack makanan tradisional khas Daereh Pantai Goa Cemara dan es kepala muda. Cuaca semakin mendung dan kami tetap melanjutkan langkah. Pantai ini secara periodik juga menjadi tempat bertelurnya penyu. Hal ini mejadi daya tarik wisata kawasan Pantai Goa Cemara.

Banyak sekali hal-hal yang bisa dilakukan di Pantai Goa Cemara ini. Seperti foto-foto dengan spot yang instagramable, camping di pantai, Gathering bareng keluarga maupun komunitas, Konservasi Cemara, Konservasi Penyu dan Outbond. Kami bersama-sama menuju ke pantai untuk melepaskan tukik ke laut lepas. Unik nya lagi pantai ini mempunyai pasar tradisional

Pinus Pengger

Memakan waktu yang lumayan Panjang dari Pantai Goa Cemara menuju ke Pinus Pengger. Sesampai di Pinus Pengger kami disambut dengan hujan. Kami langsung menuju ke pendopo untuk berteduh dan juga kami sudah disiapkan makan. Hawa semakin dingin, berkabut dan rintik hujan turun. Kami juga diberi edukasi tentang Wisata Pinus Pengger. Ternyata dari semua spot yang digunakan untuk foto mengandung filosofi masing -masing. Hal ini menjadi salah satu unggulan di wisata ini. Aku dan team lanjut untuk keliling dengan memakai jas hujan karena kondisi memang masih gerimis. Ya, demi sebuah konten hujan kabut kami lalui.

Puncak Sosok

Perjalanan kami ditutup di Puncak Sosok. Dingin nya sampai menusuk tulang, namun kami semua dihangatkan dengan hidangan yang disuguhkan. Wedang dan snack yang disajikan dalam besek. Dipuncak Sosok ini kami diedukasi tentang awal mula pembangunan Puncak Sosok ini. Puncak Sosok terletak di Jambon, Bawuran, Pleret, Bantul Yogyakarta.

Banyak hal yang bisa dilakukan di Puncak Sosok, seperti foto-foto dengan spot instagramable, menikmati aneka mananan dan minuman di warung, Menikmati live music, bagi yang suka berburu foto malam disini tempatnya. Setelah itu kami lanjut foto bersama di panggung yang biasanya digunakan untuk life music. Tak lama kemudian kami semua kembali pulang ke titik kumpul masing -masing ada yang di Dinasa Priwisata DIY dan juga Dina Pariwisata Bantul.

Bagaimana seru kan perjalanan kami? Giliran kalian ya yang perlu berkunjung ke wisata-wisata yang aku ceritakan tadi. Yang penting tetap ikuti protokol kesehatan yang ada dan sehat selalu.