Halo sobat Journeyandleisure!

Kembali lagi aku akan bercerita pengalaman Traveling di Era New Normal ini. Semoga kalian membaca sampai selesai dan ikut masuk dalam cerita. Let’s go!!!

Sebuah rencana yang sempat tertunda selama 4 bulan karena adanya covid-19. Setelah sekian lama bisa bertahan di rumah saja, tepat hari Minggu tanggal 13 Juli 2020 aku dan teman-teman memutuskan untuk ke Sukabumi. Berawal dari sebuah percakapan ku dengan kak Yohana pingin ke Jembatan Situ Gunung, tapi apalah daya kalau naik transportasi umum belum berani. Kami mencoba mengajak mas Fery untuk touring naik motor, yeey dia bersedia. Tapi harus mikir lagi cari teman lagi yang ada motor dan siap untuk trip bareng. Mas Fery mengajak temannya mas Andy, setelah aku hubungi diapun bersedia. Rencana ini lumayan mendadak, aku berusaha mengajak kak Erna dan kak Ferdin, mereka pun bersedia.

Trip dalam masa pandemi memang lebih berhati-hati dan waspada. Harus benar-benar mengikuti aturan yang ada. Aku memutuskan untuk berani ke Situ Gunung Sukabumi karena aku sudah survey, melihat adanya simulasi protokol kesehatan dan WhatsApp langsung ke pihak Wisata Situ Gunung. Aku pergi dengan New Normal Starter Pack yaitu masker kain, hand sanitizer, tisu basah, tisu kering, tumbler, straw, obat pribadi baju ganti. Yang pasti kalau sudah di lokasi harus tetap jaga jarak.

 

Touring Jakata – Bogor – Sukabumi

Kami berjumlah 6 orang dengan 3 motor. Perjalanan kami dimulai dari Kemayoran. Sekitar pukul 07:00 pagi kami berangkat. Jalan lumayan jauh dan agak macet. Perjalanan kami sangat melelahkan tapi seru. Kami masih janjian bertemu dengan teman yang lain di Jalan Raya Bogor ( Patung Tugu Narkoba). Sekitar jam 10:00 kami sampai Sukabumi, lalu istirahat mampir ke Indomaret dan juga sarapan bubur di pinggir jalan. Sungguh sangat mengejutkan, ternyata kehidupan didaerah itu semacam tidak ada yang waspada akan adanya covid-19. Banyak orang yang dan bahkan hampir semua orang tidak ada yang menggunakan masker. Gemes melihatnya. Setelah semuanya selesai kami melanjutkan perjalanan.

 

Cerita Dibalik Map Yang Salah

Rute yang kami lalui yaitu mengikuti map dan ternyata lewat jalan yang sangat susah. Sebenarnya sudah banyak yang review kalau jalan itu salah, tapi kami lupa akan hal itu. Kemudian ada warga disana yang mau membantu tapi harus bayar permotor 50 ribu, dan kami akhirnya tawar menawar sambil berusaha untuk melanjutkan perjalanan. Kena deh 50 ribu untuk 3 motor jadinya. Memang jalurnya jadi lebih dekat tapi ngeri sekali. Harus lewat tanjakan, jurang dan jalannya masih tanah, kami para cewek turun dan berjalan kaki, karena tidak mau menanggung resiko jatuh.

Tanjakan pertama lolos semua. Tapi diawal tadi sebelum tanjakan team kak Ferdin sudah ambruk duluan motornya gara-gara lubang. Semua aman kok orangnya maupun motornya. Jalannya memang benar- benar setapak membuat aku dan kak Yohana teringat akan Bandung Dengan Pengalaman Yang Tak Terlupakan. Uppss ditanjakan terakhir team Mas Andy mengalami kecelakaan, dan untungnya kami berdua langsung kompak bisa lompat dan tidak terjatuh. Motor langsung dibanting jatuh dan kami berdua langsung menghindar dari motor. Aku teriak minta bantuan karena kami tertinggal jauh dari team lain. Akhirnya datanglah orang yang mengantar kami tadi dan membantu motor berdiri dan jalan. Kami berdua baik-baik saja tidak ada yang cidera. Namun, motornya yang postepnya patah dan stangnya bengkok. Tetap bisa menghela nafas lega karena masih bisa jalan.

Tak lama kemudian ada post yang menjaga untuk pembelian tiket Situ Gunung. Kami semua tidak membeli disana karena ada pilihan lain untuk membeli di loket utama dekat parkiran. Kami memasuki area parkir dan bersiap untuk melakukan perjalanan menuju ke Jembatan Gantung. Setelah kami sampai di loket kami ditawarkan dengan dua pilihan tiket VIP dan tiket Reguler. Harga tiket VIP sebesar 100 ribu sudah termasuk jasa antar jemput menggunakan motor/ mobil, welcome drink (coffee dan snack), masker kain, melalui jalur khusus tanpa harus antri panjang untuk masuk ke Jembatan. Harga tiket Reguler sebesar 70 ribu sudah termasuk welcome drink saja dan jalur lebih jauh. Tempat pembelian tiket pun berbeda dengan yang VIP. Dengan kompak kami langsung memilih yang VIP karena yang pertama terlintas dipikiran kami tidak mau antri panjang.

 

Jembatan Gantung Situ Gunung

Lanjuuuttt!!! Kami ber-6 menuju ke mobil yang akan mengantar kami ke Resto untuk ngopi dan snack. Suasana lumayan ramai dan kami tetap berusaha jaga jarak dengan kelompok lain. Kami mengambil snack pisang rebus dan singkong rebus serta kopi atau teh. Jika mau makan makanan lain juga ada di resto ini. Sambil kami makan snack dan minum kami bercerita flashback perjalanan sebelum sampai di Situ Gunung. Cerita bagaimana kami jatuh dan juga bagaimana kami menikmati perjalanan.

Jam 12:00 kami melanjutkan perjalanan menuju ke Jembatan Situ Gunung. Hanya 3 menitan dari resto sudah sampai di pintu masuk ke Jembatan. Sebelum kami melewati jembatan kami harus memakai sabuk pengaman, yang bisa digunakan jika terjadi bahaya. Kemudian langsung melewati jembatan deh.

Kenapa aku tertarik dan pinngin kesini? Karena aku penasaran. Jembatan Situ Gunung ini adalah sebuah jembatan terpanjang di Indonesia. Ya, kalo Jerman punya Geierlay kalo Indonesia punya Situgunung gitu. Jembatan Situ Gunung mempuyai panjang 250 m dengan ketinggian diatas jurang sekitar 150 m dan lebar 2 m. Wooow ngeri sekali ya, kalo yang takut ketinggian kalo sudah ditengah-tengah rasanya ingin balik arah.

Peraturan yang ada jika melewati jembatan itu ialah tetap berjalan tidak boleh diam ditempat, tidak boleh melompat, tidak boleh lari. Dan kemaren ada yang bisa bisanya bikin video tiktokan yang menyebabkan jembatan jadi goyang kencang. Rasanya gregetan aja liat gituan, ingin ku jungkrakno dari jembatan dah. Pesan untuk kalian yang suka membuat foto out of the box atau foto keren boleh saja tapi ingat tetap patuhi aturan. Jadilah wisatawan bijak jangan hanya mikirin diri sendiri ingin punya foto bagus tapi bisa merugikan wisatawan lain.

 

Curug Sawer

Curug ini tak jauh dari Jembatan Gantung Situ Gunung. Ya jelas karena salah satu tujuan dibangun jembatan itu juga untuk mempermudah dan mempersingkat waktu menuju ke Curug Sawer. Tetap untuk tujuan pariwisata. Dari jembatan menuju ke Curug Sawer hanya sekitar 10 menit saja. Yang akan melewati kawasan Glamping. Disana juga sudah teredia mushola, toilet, jual souvenir dan juga kantin. Jadi buat kalian yang datang kesini gak perlu takut kelaparan karena ada banyak jual makanan, bagi yang salah pake sepatu ada juga yang jual sandal. Lengkap pokoknya. Semua tertata rapi sebagaimana mestinya.

Yuuhuuiii…. sampailah di Curug Sawer. Airnya sangat deras. Dengan tinggi hanya sekitar 25 m saja dan berada pada ketinggian antara 900-1300 meter diatas permukaan laut. Aku baca dari sejarah-budaya.com cerita dan sejarah Curug Sawer ini. Pada jaman dulu curug ini angker dan sering digunakan untuk ritual mistis. Konon katanya di curug ini digunakan untuk pertapa seseorang yang tinggal di kaki Gunung tersebut. Dengan mengadakan Upacara Saweran di Sungai Cipada guna untuk mendapatkan berkah bagi dirinya. Ia bertapa selama bertahun-tahun hingga wafat. Ya hanya cerita sekilas tentang dibalik nama Curug Sawer.

Untuk yang pingin berfoto dengan background air terjun bisa tanpa harus turun ke batu-batu, karena sudah ada jembatan yang digunakan sebagai tempat berfoto. Tapi kalau yang ingin turun main air dan basah-basahan bisa juga turun.

Setelah kami puas berfoto dan menimati indahnya Curug Sawer langsung kembali menuju ke jembatan gantung dan resto. Dan satu lagi kelebihan dari tiket VIP nih, setelah dari Curug Sawer bisa melewati jembatan gantung lagi untuk menuju ke resto jadi lebih dekat. Kalau untuk yang reguler harusnmelewati jalur yang berbeda dan lebih jauh. Jadi, kami beruntung memilih yang VIP bisa lewat di jembatan lagi dan ambil foto lagi. Karena yang pertama lewat terus belum dapat angle yang pas dan ada yang terlewat.

 

Danau Situ Gunung

Dari resto kami kembali menuju ke loket masuk dengan naik  ojek motor karena mobil nya belum datang. Kemudian kami kembali ke parkiran dan naik motor untuk menuju ke Danau Situ Gunung. Motor pribadi hanya boleh sampai di parkiran. Selanjutnya jika mau naik motor harus naik ojek dan jika mau jalan kaki juga bisa. Karena jarak dari parkiran ke Danau hanya sekitar 200 m. Tapi jalan memang sangat menanjak. Lelah sih tapi irit 60 ribu untuk kami ber-6.

Sekitar 15 menit sampai di Danau. Memang danaunya tak begitu luas. Hanya saja disana terasa sejuk banyak pohon-pohon. Ada banyak orang yang piknik, ada yang mancing dan juga bisa naik bebek-bebekan untuk menyeberangi danau. Bisa melihat danau yang dikelilingi pohon -pohon pinus.

Karena waktu sudah sore kami melanjutkan perjalanan pulang. Jika dari cerita tadi masih kurang lengkap kalian juga bisa langsung kontak ke Instaram @situgunungsuspensionbridge ya!

Sekitar pukul 15:30 kami meninggalkan Situ Gunung dan mencari tempat makan. Ternyata kami tidak makan siang dan untung diawal perjalanan kami sempatkan untuk sarapan bubur. Akhirnya kami sampai disalah satu tempat makan yang ada di pinggir jalan. Kami ber-6 mampir dan makan disana. Sekalian kami istirahat. Setelah maghrib kami baru melanjutkan perjalanan menuju pulang. Tepat sampai Bogor cuaca pun gerimis, kami memutuskan untuk singgah sambil ngopi ke salah satu cafe di Bogor @raindearcoffee.

 

Kami pesan kopi dan snack untuk menemani kami istirahat. Sekitar 1 jam lamanya kami berada disana. Setelah itu kami berpisah dengan team kak Ferdin, karena mereka tinggal di Bogor. Sedangkan team aku dan mas Fery masih lanjut perjalanan ke Jakarta sekitar 1 jam. Jam 22:40 kami tiba di Kemayoran, aku dan kak Yohana. Dan mas Fery dan mas Andy masih lanjut ke Rawa Buaya.

Cerita perjalanan yang seru dan mengesankan. Bagi kami salah jalan gara-gara map, mengalami kecelakaan dan juga jalan macet menjadi hal yang seru dan bisa menjadi ingatan. Menjadi peristiwa yang seru dan mengesankan untuk diceritakan ke teman-teman lain.

TERIMA KASIH SUKABUMI.